Invisible Girl

Kali ini saya akan sedikit membanting setir kembali kepada masalah keluarga, yaitu keluarga besar saya baik dari sisi ayah maupun ibu. Mungkin banyak yang akan bertanya kenapa judul-nya invisible girl, padahal yang akan saya bahas adalah persoalan keluarga. Namun, kenyataannya memang begitulah saya diantara kumpulan manusia yang memiliki hubungan darah dengan saya atau yang biasa kita sebut sebagai keluarga. Bagi sebagian orang yang pendiam apalagi kepada para strangers, menjadi gadis yang tak terlihat di keluarga sendiri merupakan hal yang sangat biasa. Dan saya sangat yakin saya berada di kumpulan orang tersebut.

Saya mulai berpikir mengenai permasalahan keluarga ini sejak teman saya memberikan petuah kepada saya betapa pentingnya sebuah keluarga besar untuk setiap manusia. Kemudian, saya mulai berpikir bahwa saya sendiri tak begitu dekat dengan keluarga besar saya. Sedikit atau pun banyak saya mulai menyesali keadaan tersebut, karena apa yang diberitahukan oleh teman saya tersebut merupakan sesuatu hal yang sangat benar. Keluarga akan membawa dampak besar dalam kehidupan setiap manusia baik saat ini atau pun suatu saat nanti. Sehingga, saya mulai gencar melaksanakan misi yang saya sebut sebagai ‘add-families-through-FB’ sebagai proses untuk mendekatkan saya kembali pada jalan yang benar dalam keluarga saya tersebut.

Saya adalah anak rantau sejak SMA, saya sudah meninggalkan rumah untuk menimba ilmu sejak menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama saya. Sehingga ketika saya sudah dewasa dan menjadi seorang gadis perawan, tak banyak saudara yang tahu seperti apa rupa saya dan bagaimana keadaan saya. Apalagi dahulu ketika masih kecil, saya adalah anak yang anti-sosial bahkan diantara para saudara saya sendiri. Ketika semua keluarga berkumpul yang saya lakukan adalah menempel seperti perangko pada sang mami dan tak ingin bermain dengan saudara yang seumuran dengan saya. Bahkan, ayah-ibu saya pernah memaksa saya untuk bermain dengan mereka karena takut saya tak akan mengenal mereka sebagai saudara saya sendiri. Pada akhirnya itulah yang terjadi, saya tak mengenal mereka sebagai keluarga dan mereka tak pernah tahu siapa saya.

Namun, ke-invisible-an saya ini hanya terjadi pada keluarga pada sisi ibu saya sedangkan pada keluarga sisi ayah itu tak terjadi. Saya lebih dekat dan lebih suka berada diantara keluarga ayah saya, dan merasa tak nyaman ketika bersama keluarga ibu saya. Saya tak tahu apa alasan yang pasti, namun saya meyakini mungkin ini dikarenakan saya lebih banyak dibesarkan bersama dengan keluarga ayah apalagi saya sendiri merupakan seorang daddy’s girl. Ketika saya diajak oleh orang tua untuk menghadiri kumpul keluarga besar ibu setiap satu bulan sekali, saya lebih banyak menolak. Terkadang saya merasa tak adil pada mami, tetapi hati saya tak pernah bisa dibohongi untuk melakukan apa yang tidak saya sukai.

Pada sisi ayah, keluarga saya adalah keluarga besar yang tinggal di desa yang damai dan sejuk. Ayah saya masih memiliki seorang ibu yang tinggal di rumah yang biasa kami gunakan untuk berkumpul bersama, beliau adalah seorang nenek yang sangat baik pada cucu-cucunya. Saya bahagia ketika keluarga besar tersebut berkumpul pada akhir pekan atau ketika ada acara yang besar dan patut diperingati. Mereka adalah orang-orang yang ramah dan bersama mereka saya tak perlu berpikir panjang untuk ikut ‘nimbrung’ dalam obrolan kecil mereka. Ketika saya diam, mereka akan membuat saya berbicara dengan nyaman. Bukan masalah besar untuk beradaptasi dalam keluarga ini, karena rasa kekeluargaan tersebut mengalun tenang diantara kami. Tidak ada perbedaan yang membuat kami tidak nyaman dengan satu sama lain karena kami adalah satu keluarga.

Keluarga sisi ibu saya merupakan keluarga yang lebih besar apabila dibandingkan dengan keluarga ayah, karena almarhum kakek saya memiliki dua istri. Namun karena memiliki dua nenek itulah perbedaan itu sangat terasa, itu merupakan hal yang tak dapat dipungkiri oleh siapa pun juga. ‘Bulik-budhe’ serta ‘pakde-pakpuh’ adalah panggilan untuk saudara ibu dari almarhumah nenek pertama yang merupakan ibu dari mami saya, dan ‘tante’ serta ‘om’ untuk saudara ibu dari almarhumah nenek kedua. Ada banyak perbedaan diantara kedua pihak tersebut, dan hal tersebut yang terkadang membuat saya tidak nyaman.

Pada saat ‘arisan keluarga’ setiap satu bulan sekali, saya merasa inferior diantara kumpulan saudara yang bahkan terkadang saya tak tahu namanya. Banyak dari mereka yang tak peduli apabila saya ada atau tidak dalam acara tersebut, dan itu pula yang membuat saya tak ingin peduli terhadap nama mereka. Menjadi anak terakhir (secara teknis) diantara dua saudara yang hebat bukanlah hal yang mudah. Kakak pertama saya merupakan anak yang paling terkenal diantara keluarga akibat kepintaran dan prestasinya, menjadi anak pertama kebanggaan ibu merupakan nilai plus untuknya. Kakak kedua merupakan anak yang sociable sehingga banyak saudara yang mengenalnya, ia mampu bergaul dan dianggap sebagai gadis yang sangat sopan dan lucu di saat yang bersamaan. Sedangkan, saya hanya dianggap sebagai gadis yang memiliki wajah yang mirip dengan kakak kedua dan mungkin memiliki otak yang cukup pintar untuk menyaingi kakak pertama. Saya hanya dikenal sebagai anak terakhir dari orang tua saya yang tak pernah berada di rumah karena mendapat beasiswa keluar kota.

Saya tak tahu patut menyalahkan siapa atas keadaan ini, atau sebenarnya memang tidak ada orang yang patut dipersalahkan atas ini semua. Mungkin hal ini memang salah saya sendiri karena terlalu malas untuk ber-sosialisasi dengan mereka, atau salah kedua kakak saya yang terkadang membuat saya merasa kecil di hadapan para saudara, atau salah orang tua saya yang tak memaksa saya untuk mengenal mereka lebih jauh. Namun, saya lebih yakin bahwa keadaan ini merupakan sepenuhnya salah saya sendiri. Saya hanya takut mengambil risiko untuk menyeberang batas yang kentara diantara kedua belah pihak, saya hanya mencari aman kala itu. Saya yang tak mau mengenal mereka lebih jauh karena merasa takut untuk diacuhkan oleh mereka yang saya rasa lebih memiliki segalanya dibanding saya. Seharusnya, sejak dahulu saya bisa berpikir sebaliknya. Tetapi, saya baru menyadari ketika saya sudah mulai dewasa dan sekarang terasa terlambat untuk memulai hal tersebut.

Sungguh, sebenarnya saya ingin dikenal juga oleh keluarga saya sendiri. Saya ingin mereka tahu siapa saya dan menerima saya sebagai seorang saudara. Saya ingin bisa berbicara dengan ramah bersama mereka seperti yang kakak kedua biasa lakukan. Saya ingin membanggakan mereka seperti yang kakak pertama selalu laksanakan. Saya hanya ingin mereka menyebut nama saya ketika saya bersalaman dengan mereka dan bukan nama kedua kakak saya yang biasanya selalu mereka ucapkan. Saya ingin dengan mudahnya menyapa mereka ketika bertemu atau bahkan hanya lewat jejaring sosial. Saya ingin bisa meng-unggah foto kebersamaan kami sebagai sebuah keluarga. Saya ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka adalah keluarga saya dan bukannya hanya sekumpulan orang yang pernah saya kenal. Saya sungguh ingin mereka menyayangi saya seperti saya menyayangi mereka.

Sebenarnya ketakutan terbesar saya bukan tentang terlihat tidaknya saya di hadapan mereka, bukan mengenai kasih sayang diantara kami, bukan pula mengenai perbedaan diantara kedua kubu. Namun yang paling saya takuti adalah ketika saya telah dewasa dan berkeluarga nantinya saya tidak bisa berkumpul bersama mereka apalagi ketika hari raya tiba. Saya tak ingin benang persaudaraan yang telah dibangun oleh keluarga terdahulu sebelum generasi saya hancur hanya karena ketidaksiapan saya untuk mendekati mereka. Saya juga tak ingin anak-anak kami nantinya tak mengetahui betapa hebatnya keluarga kami seperti yang saya lihat sekarang. Sehingga, saya hanya dapat berharap semoga ada sebuah keajaiban yang mampu membuat saya dekat dengan mereka dengan begitu persaudaraan kami tetap terjaga.

Fam

FAMILY

Iklan

Colour of Friendship

FS

Friendship

Teman atau sahabat? Saya nggak tau apa beda dari kedua hal itu, tetapi bagi sebagian orang kedua hal tersebut sangat berbeda. Bagi mereka, sahabat adalah seseorang yang lebih dari seorang teman. Sahabat bisa mengerti mereka lebih dari seorang teman lakukan. Tetapi bagi orang awam seperti saya yang bisa dibilang “kagok” dengan hal seperti ini, teman dan sahabat itu sama saja. Bagi saya, seorang sahabat pasti adalah seorang teman dan seorang teman mungkin bisa menjadi sahabat. Lalu apa bedanya? Yang terpenting, mereka merupakan orang yang sangat saya kenal dan bisa menghargai saya seperti ini adanya.

Sebagai seseorang yang bisa dibilang less sociable, saya nggak punya banyak teman. Mungkin jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, mulai dari teman masa kecil hingga teman SMA. Bukannya saya tak ramah pada spesies manusia lainnya, saya sedikit terkesan dingin dan judes ketika pertama kali bertemu dengan mereka. Jadi nggak heran kalau cuma sedikit orang yang berani mendekati ‘preman’ seperti saya. Kebanyakan dari teman saya berjenis kelamin perempuan meski nggak sedikit juga yang laki-laki, tetapi para teman lelaki itu sebagian besar selalu berakhir jatuh hati pada saya (bukan bermaksud sombong, hanya sedikit mengumbar).

Teman masa kecil saya berkutat pada nama-nama anak para tetangga yang sebaya dengan saya. Namanya Deta, Farah dan Niken. Niken masih terhitung saudara yang juga seumuran dengan saya dan kalau dilihat dari silsilah keluarga merupakan keponakan saya (bisa dibilang saya adalah tantenya). Farah adalah anak tetangga saya yang satu tahun lebih muda dari saya, si anak penakut yang sangat baik hati. Kalau si Deta adalah anak teman ayah sekaligus tetangga saya yang seumuran dengan Farah, dia adalah anak yang kuat namun sedikit manja. Mereka bertiga memberikan saya memori masa kecil yang cukup indah. Kehidupan awal saya di bumi berputar bersama ketiga orang ini, dan bersama mereka pula saya tumbuh hingga saya mulai menempuh bangku SD dan mengerti arti dari pertemanan atau persahabatan tersebut.

Sekolah Dasar merupakan masa kanak-kanak yang panjang, tetapi hanya segelintir orang yang menikmatinya bersama saya. Niken masih menjadi teman setia masa SD saya, karena dia adalah teman satu sekolah sekaligus tetangga samping rumah yang hanya perlu satu langkah untuk dicapai. Selain itu ada nama-nama seperti Dini, Lely, Inggar, Septin, Andra dan Anis yang juga ikut menghiasi memori saya. Dini dan Lely merupakan teman saya menuntut ilmu dan mereka pula yang mengajarkan saya untuk sedikit menjadi ‘perempuan’. Selain itu saya memiliki teman spesial bernama Inggar, dia telah mengajarkan saya menjadi seorang petualang hingga akhirnya dia harus pindah meninggalkan saya. Kalau ketiga orang bernama Andra, Septin dan Anis ini adalah teman kursus saya dan bersama mereka saya mengerti arti sebuah kesenangan serta tawa bahagia.

Selanjutnya adalah masa SMP milik saya. Pada masa ini bisa dibilang saya adalah introvert kelas kakap, hingga tak banyak orang yang tahu nama saya. Teman baik saya hanya ada dua orang, Kresy dan Eka. Kresy, si kribo kecil yang ternyata bisa bersikap lebih dewasa dari saya merupakan teman sekelas saya selama tiga tahun dan bersama dia saya mengerti arti kedewasaan. Teman saya yang satunya ini lebih mengajarkan saya banyak hal terutama kesabaran dan kebaikan, namanya Eka. Ia tinggal tak jauh dari rumah saya, bersama dengannya saya berangkat tiap pagi untuk menimba ilmu bersama. Kalau bersama Kresy saya berperan sebagai seorang ‘kakak’, dengan Eka saya berperan sebagai seseorang yang jauh lebih muda darinya. Bagi saya sudah cukup untuk dikenal dan mengenal kedua orang tersebut, sehingga tak perlu seisi sekolah tahu siapa saya.

Akhirnya, sampailah pada masa paling bergejolak dalam hidup saya yaitu masa SMA. Mungkin memang benar jika masa SMA adalah masa yang paling berapi-api dalam setiap masa kehidupan manusia, tetapi bukan untuk saya. Masih dengan facade yang sama yaitu raut wajah dingin, saya memasuki masa SMA yang cukup berbeda dengan masa SMA gadis lainnya. Asrama telah mengubah perspektif saya mengenai persahabatan atau pertemanan ini. Pertemanan tidak membutuhkan kata, kita hanya perlu diam berada di samping mereka. Tiga tahun saya hidup bersama mereka, dan saya mulai mengerti arti kehidupan dengan bumbu persahabatan di dalamnya persis seperti kata orang kebanyakan. Ada sebuah keindahan di dalamnya, namun kita juga tak bisa menghindari kesedihan yang terukir di dalamnya.

Tika, mungkin bisa dibilang ia bukan seorang teman tetapi saudara tanpa ikatan darah. Ia lebih seperti seorang kakak yang mampu menjaga tingkah laku saya yang sedikit melenceng. Kami tak butuh kata-kata untuk mengekspresikan betapa kami peduli akan satu sama lain, kami hanya perlu melihat dan mengamati hal tersebut. Bukan sebuah telepati, mungkin hanya radar yang kuat (jadi inget agen neptunus). Meski saya tak pernah berkata bahwa saya berterimakasih akan kehadirannya pada hidup saya yang berantakan, tetapi saya tahu ia mengerti itu.

Dewi, Upi, Inayah dan Au mereka adalah para teman pembawa kebahagiaan. Mereka membuat saya bahagia dan pada saat yang sama mengajarkan saya hal yang tak pernah saya ketahui. Dengan berbagai karakter pada diri mereka, saya mulai mengerti perbedaan. Kami bermain dengan sinisme dan kata-kata kasar untuk mengungkapkan kepedulian kami, namun terkadang itu jauh lebih baik daripada kata-kata indah yang tak memiliki arti. Saya menghargai mereka dan masih berusaha untuk mengerti mereka dengan menerima kelebihan dan kekurangan mereka. begitu juga sebaliknya.

Wili dan Yusa adalah teman saya menghadapi kepahitan hidup. Mereka merupakan teman seperjuangan saya menghadapi cobaan hidup yang tak ada habis-habisnya di sebuah kelas neraka. Mereka juga teman satu kelas saya diantara para Einstein-einstein berotak encer yang tak dapat kami kejar kepintaran-nya. Kami pasrah bersama dan kami juga berjuang bersama. Kami sama, karena kami berjuang di jalan yang sama. Mungkin baru beberapa bulan saya mengenal mereka, namun saya berharap dapat menghargai mereka seperti yang lainnya dan juga sebaliknya.

Terima kasih untuk para kawan, teman, sahabat atau apa pun juga mereka menyebutnya. Tujuh belas tahun hidup saya jauh lebih bermakna, karena kalian telah mewarnai hidup saya yang berawal dari sebuah kertas putih tanpa warna. Karena kalian, kehidupan yang sulit ini terasa lebih mudah meski hanya untuk beberapa waktu. Saya bukanlah teman terbaik yang pernah kalian miliki, tetapi dari hati saya ter-dalam saya sungguh menghargai kalian semua