A Small Letter to Her

Dear Anneke Feinya Agustin,

Selamat ulang tahun! Happy Birthday! Saengil Chukkae! Otanjou-bi Omedetou Gozaimasu! Joyeux Anniversaire! Alles Gute zum Geburtstag! Dan tentu saja Sugeng Tanggap Warsa!

Ucapan dalam berbagai bahasa diatas tidak mampu mengekspresikan perasaanku kali ini. Meski bagi sebagian orang hari ulang tahun merupakan hari yang cukup menyedihkan karena tepat pada saat itu umur seseorang akan berkurang satu tahun dan tentu saja berkurang pula waktunya untuk beribadah kepada Tuhan. Namun, bagiku hari ini adalah hari yang patut untuk dirayakan karena jika saja dua puluh dua tahun lalu seorang Anneke Feinya Agustin tidak lahir ke dunia maka aku tak akan pernah bisa melihatnya bertanding dengan begitu apiknya. Terimakasih telah lahir ke dunia ini kakak! Bukan hanya aku, aku yakin banyak orang yang merasakan hal yang sama. Siapa yang tak suka pemain bulutangkis cakep dengan skill yang ciamik? Anda adalah salah satu alasan kami tersenyum setiap pagi dan bersyukur kepada Tuhan oleh karunia-Nya.

Bahagia, hanya satu kata itu yang ingin aku lekatkan pada diri kakak. Aku tidak ingin memberi kakak berbagai doa dan harapan klise yang orang lain biasa ucapkan. Bukankah bahagia itu sudah mencakup semua doa dan harapan tersebut? Semoga kakak selalu bahagia dalam menjalani hidup! Kebahagiaan adalah kunci mencapai tujuan, karena setiap manusia diturunkan ke dunia dengan tujuannya masing-masing. Dengan bertambahnya umur kita akan semakin dekat dengan tujuan kita itu, kan? Dan tentu saja bahagia itu sederhana asalkan kita selalu menghargai apa yang kita miliki dan dengan siapa kita berbagi. Kakak masih punya keluarga dan orang tua, fans yang berjibun, sahabat – sahabat yang selalu mendukung, dan tentu saja Kak Bayu yang kece. Smile, kak! Tersenyumlah dengan penuh kebahagiaan dengan begitu aku juga akan ikut bahagia!

Cepat sembuh ya! Aku kangen lihat kakak di court. Aku ingin banget denger teriakan kakak yang khas itu, netting dan defense kakak yang badai abis dan wajah cakep kakak dengan keringat yang semakin memberikan efek sexay itu. Aku bukannya ingin memberikan beban pada kakak. Bahkan, aku ingin mengangkat semua beban itu agar kakak bisa lepas bermain. Aku ingin banget jadi Doraemon yang punya kantong ajaib biar bisa menyembuhkan kakak dalam sekejap, tetapi aku sadar semua nggak semudah itu. Oleh karena itu, aku hanya ingin kakak tau bahwa aku akan selalu mendukung kakak apapun yang terjadi. Bagiku kakak adalah playmaker terbaik bagi Indonesia! Semangat ya, kak!

SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-22! *smile

 

Love,

Your Warrior

Mom’s Favourite Story

FK

Jas Putih

Ibu saya suka sekali ‘ngrempong’ alias bercerita mengenai banyak hal terutama kepada keluarga besar kami. Namun untuk kali ini saya bukan akan membahas mengenai ibu saya tercinta, tetapi membahas mengenai topik ‘rempong’ ala sang mami. Selama Hari Raya tahun ini, mami sibuk sekali bercerita mengenai berbagai topik yang bersangkutan dengan empat putri kesayangannya. Salah satu topik mengenai diri saya dan masih menjadi berita hangat di antara para keluarga adalah medical education atau sekolah kesehatan. Topik yang sangat terkenal dan sudah mampu saya hafal di luar kepala.

Kedua orang tua saya baik sang papi atau pun mami berharap saya menjadi seorang dokter. Bukan dokter cinta, tetapi benar-benar dokter dalam arti yang sebenarnya. Lucu rasanya melihat beliau berdua begitu bersemangat menceritakan rencana masa depan mereka untuk saya bersama dengan keluarga besar kami, sedangkan saya sendiri hanya diam tersipu malu. Akibat keahlian iklan oleh mami-papi, para tante saya ikut terbujuk rayu untuk menyokong rencana tersebut. Alhasil, hidup saya semakin dipenuhi oleh jas putih dan  jarum suntik yang bahkan tak pernah ter-pikirkan oleh saya sendiri.

Sebenarnya semua hal tersebut bersumber pada seorang ‘budhe’ yang notabene merupakan kakak dari ibu saya, beliau adalah orang pertama yang mencetuskan ide brilian masa depan saya. Beliau juga yang telah menyanggupi untuk membantu saya meraih cita-cita ‘saya’. Bukannya saya tak senang dengan berbagai rencana yang telah dipersiapkan hanya untuk saya seorang, tetapi pada saat itu saya tak mengerti apa enaknya menjadi dokter. Saya orang yang bebas, saya lebih suka menjadi seorang penulis yang bisa bebas berkarya dan berkeliling dunia dan bukan seorang dokter yang giat belajar dan ulet untuk menatap masa depan.

Tetapi, tanpa saya sadari sebenarnya itulah cita-cita saya sedari dulu. Ketika masih TK, guru saya selalu bertanya ingin jadi apa saya nantinya dan saya akan dengan lantangnya menjawab dokter. Ketika masa SD hampir seluruh umat manusia akan berganti beragam cita-cita dari mulai polisi sampai presiden, tetapi setiap ada orang bertanya hal yang sama kepada saya jawaban saya juga tetap sama. Baru ketika masa SMP, hal tersebut sedikit punah karena kemauan dan passion saya terhadap hal yang lainnya mulai bermunculan. Tetapi, saya sendiri tidak tahu mengapa ketika mengisi aplikasi untuk mendaftar SMA saya tetap menuliskan dokter pada kolom cita-cita.

Rencana ini memang bukan salah orang tua saya, mungkin memang sebenarnya saya sendiri yang telah mendeklarasikan diri saya sebagai dokter sejak dulu. Karena kenyataannya adalah saya suka menjadi dokter dengan atau tanpa kesadaran saya. Saya percaya jika memang Allah SWT mengizinkan semua hal tersebut dapat terjadi. Jalan dan proses yang akan saya tempuh memang tak akan mudah, tetapi saya juga sudah tahu bahwa hidup memang tak pernah mudah. Meski tak pernah membayangkan diri saya memakai jas putih dan berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, namun akan selalu ada saatnya untuk memulai membayangkannya.

Sebenarnya semua sudah ada dalam satu paket ketika saya menjadi dokter nantinya. Saya tak perlu berhubungan lagi dengan Fisika, saya bisa memperbaiki hubungan baik dengan Biologi, orang tua saya bangga kepada saya, keluarga besar saya dapat merasa lega, teman-teman saya ikut bersyukur bersama saya, dan yang terpenting saya dapat memenuhi mimpi masa kecil saya. Cita-cita yang saya miliki untuk menjadi dokter memang sedikit klise, setiap anak pasti pernah bermimpi menjadi seorang dokter. Tapi, saya tahu ke-klise-an saya ini sedikit berbeda dengan orang kebanyakan.

Saya selalu berharap menjadi manusia yang berbeda dengan orang lain dalam berbagai hal. Saya selalu mencari cara untuk menemukan jati diri yang tak ditemukan oleh orang lain. Dengan ke-berbedaan ini saya berharap bisa menjadi dokter yang berbeda dengan dokter yang lainnya dalam proses yang lebih baik. Dokter bukan lagi sebuah mimpi, hal tersebut sudah menjadi sebuah harapan karena saya telah mengambil langkah untuk mewujudkannya. Dr. Alvin Faizah adalah nama yang sekarang terdengar tak asing lagi di telinga saya dan semoga seterusnya akan seperti itu.