Potret Guru Indonesia

    “Ing ngarsa sun tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani.”

–Ki Hajar Dewantara-

Cuplikan kalimat tersebut merupakan slogan Kementrian Pendidikan Indonesia yang dikutip dari Ki Hajar Dewantara selaku pelopor pendidikan di Indonesia. Secara garis besar arti semboyan tersebut adalah di depan seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara murid-muridnya guru harus mampu menciptakan prakarsa dan ide, sedangkan dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan atau motivasi. Slogan tersebut seakan mengingatkan peran signifikan guru dalam pendidikan di berbagai jenjang di Indonesia, menjadi ujung tombak pendidikan. Ketika ujung tombak itu tak tajam lagi, maka tombak tersebut tak akan menancap sempurna pada sasaran yang dituju.

Kemerdekaan, keadilan dan kemandirian merupakan tiga hal yang wajib dijunjung tinggi oleh seorang pendidik dalam membimbing siswa-siswinya untuk membangun sebuah kepribadian pendidikan yang lembut dan tangguh. Kemerdekaan, memperkenankan setiap siswa untuk berkembang menuju jati diri mereka sendiri. Seseorang pernah berkata, “sekolah itu seperti sebuah kotak kecil yang membuat kita tak bisa bernapas dan bergerak ketika berada di dalamnya”. Kotak tersebut dapat diartikan sebagai peraturan yang dibuat oleh guru dan seseorang yang berada di dalam kotak merupakan murid yang harus menuruti peraturan. Ketika guru berada di dalam kelas, murid akan diam seribu bahasa meski guru tak mengeluarkan sepatah kata. Diam merupakan sebuah peraturan yang guru terapkan agar suasana belajar-mengajar dapat berjalan lebih kondusif dan murid harus mematuhinya. Padahal semakin diam seorang murid, maka semakin besar kecenderungannya untuk bosan. Untuk mengusir rasa bosan itu, murid akan sibuk dengan dirinya sendiri dengan melakukan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengam pembelajaran. Sehingga, pembelajaran  bukannya berjalan kondusif, namun akan semakin tidak efektif. Bagaimanapun juga suka atau tidak atas peraturan tersebut, murid harus tetap mematuhinya. Murid tidak diberikan kemerdekaan untuk mengembangkan dirinya, mereka hanya diajarkan cara untuk mematuhi peraturan yang ada dan telah didesain untuk mereka.

Perlakuan yang sama kepada siswa tanpa kecenderungan untuk memihak suatu sisi, itulah yang disebut keadilan dalam pendidikan. Setiap pendidik wajib untuk menuntun siswa tanpa terkecuali dengan kadar yang sama. Namun pada kenyataannya, sebagian besar guru memiliki kecenderungan kepada sebuah kelompok atau perseorangan siswa. Sebagian besar guru lebih banyak memberikan perhatian kepada anak-anak yang cerdas dan pintar. Guru memiliki pemikiran konvensional bahwa si cerdas akan dapat membantu teman-temannya yang kesulitan dalam pembelajaran. Pada kenyataannya siswa lain yang tak memiliki kemampuan merasa terabaikan. Hal tersebut merupakan sebuah pengkotakan siswa, klasifikasi untuk menentukan kasta. Padahal apa yang seharusnya terjadi adalah sebaliknya, siswa yang kurang pintar harus lebih banyak dibimbing agar setara dengan yang lain. Jika hal tersebut semakin kentara apalagi dalam dunia pendidikan, maka slogan “yang pintar akan semakin pintar dan yang bodoh akan semakin bodoh” tak dapat terhindarkan. Sehingga, ‘jurang’  yang terbentuk di antara keduanya akan semakin sulit untuk didaki.

Kemandirian, poin terakhir yang wajib dijunjung tinggi oleh seorang guru, menuntun siswa bertindak kreatif dengan kemampuannya sendiri. Pendidik bertindak sebagai pembimbing menuju kemandirian dalam pembelajaran yang dilakukan, bukan hanya sebagai  pengajar demi memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Pengajaran guru yang dilakukan saat ini hanya merujuk pada nilai dan Ujian Akhir Nasional (UAN), siswa harus mencapai nilai maksimal dan mendapatkan Nilai Ujian Nasional (NUN) yang tinggi. Ketika dua faktor tersebut telah tercapai, maka tugas guru dirasa telah usai. Tetapi, para guru sering melupakan satu titik penting dalam pembelajaran yaitu sifat mandiri yang harus ditanamkan pada setiap siswa. Kemandirian tersebut akan mengantarkan siswa kepada kesadaran untuk belajar dan berkembang. Tanpa kemandirian, siswa akan mendapatkan kevakuman pembelajaran bukannya kontinuitas pendidikan seperti yang seharusnya. Siswa hanya akan menjadi “masakan setengah matang” yang belum siap disantap oleh masyarakat.

Bagaimana cara menumbuhkan 3K?                               

Akar dari kemerdekaan, keadilan dan kemandirian (3K) pendidikan adalah kepercayaan guru terhadap siswa. Berdasarkan fakta yang terjadi, siswa telah mempercayai guru sepenuhnya dengan mematuhi segala peraturan yang digelonggongkan pada mereka. Meskipun seringkali mereka tak mengerti alasan dibalik peraturan yang harus mereka patuhi, meski peraturan tersebut terasa aneh bagi mereka sendiri. Supaya kelanjutan siklus kepercayaan tersebut akan menumbuhkan timbal balik yang baik antara guru dan murid, maka guru juga harus mampu untuk memberikan kepercayaan kepada murid-muridnya. Guru harus percaya bahwa murid akan menjadi sukses, bahwa murid dapat melaksanakan suatu tugas dengan baik apabila diberi kematangan ilmu dan petunjuk. Ketika guru telah memberikan kepercayaan kepada siswanya, di saat yang sama guru telah menyerahkan bendera kemerdekaan bagi muridnya. Kemerdekaan itulah yang akan menumbuhkan benih-benih kemandirian pada jiwa mereka.

Selain itu, perbaikan kualitas guru juga membawa dampak penting dalam pengembangan 3K. Kualitas guru sekarang dikategorikan sebagai sebuah kebobrokan. Hal yang membuat rusaknya kualitas guru adalah rendahnya kualitas input guru. Hal tersebut dikarenakan jurusan pendidikan guru memiliki peminat yang sedikit, sebagian besar pemuda Indonesia tidak ingin menjadi guru dengan alasan masa depan guru yang kurang menjanjikan. Sehingga calon guru dianggap sebagai para ‘buangan’ dengan memilih fakultasnya tanpa sadar, sedangkan yang dibutuhkan oleh pendidikan di Indonesia adalah lulusan terbaik untuk menjadi pendidik calon pilar-pilar bangsa. Seperti yang dilaksanakan oleh negara Finlandia, negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Finlandia memilih calon guru dari lulusan-lulusan terbaik universitas dan hanya sebagian yang dapat melanjutkan pendidikan sebagai calon guru sesuai dengan syarat dan ketentuan yang diberlakukan.

Kesimpulannya, seorang guru yang baik adalah guru yang mampu menyuguhkan kemerdekaan, keadilan dan kemandirian dalam pembelajaran kepada siswa-siswinya. 3K tersebut dapat ditumbuhkan dengan kepercayaan antara guru dan murid, murid telah percaya kepada guru dan guru juga harus melakukan hal yang sama. Di lain sisi, 3K juga dapat dikembangkan melalui kualitas guru. Kualitas guru yang tinggi dicapai dengan input guru yang baik, lulusan terbaik dari universitas yang memiliki panggilan jiwa untuk mendidik.

GIB

Iklan

3 thoughts on “Potret Guru Indonesia

  1. wowwww,,, great job pon,,, ga nyangka apon bisa nulis rek…
    kalo di liat2, pendidikan Indonesia memang melupakan 3 aspek itu pon,,,
    termasuk sekolah kita,,
    semoga tulisanmu membawa perubahan buat pendidikan Indonesia.. amin..
    “3K IS A GREAT IDEA FOR INDONESIA FUTURE EDUCATION”
    Semangat

  2. i agree with you dek ping…sekarang terlalu banyak manipulasi dalam dunia pendidikan sehingga generasi-generasi yang tercetak memiliki kualitas standart padahal sebenarnya tanpa ada manipulasi itu kita mampu membuat perubahan progresif,hidup Indonesia!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s