Colour of Friendship

FS

Friendship

Teman atau sahabat? Saya nggak tau apa beda dari kedua hal itu, tetapi bagi sebagian orang kedua hal tersebut sangat berbeda. Bagi mereka, sahabat adalah seseorang yang lebih dari seorang teman. Sahabat bisa mengerti mereka lebih dari seorang teman lakukan. Tetapi bagi orang awam seperti saya yang bisa dibilang “kagok” dengan hal seperti ini, teman dan sahabat itu sama saja. Bagi saya, seorang sahabat pasti adalah seorang teman dan seorang teman mungkin bisa menjadi sahabat. Lalu apa bedanya? Yang terpenting, mereka merupakan orang yang sangat saya kenal dan bisa menghargai saya seperti ini adanya.

Sebagai seseorang yang bisa dibilang less sociable, saya nggak punya banyak teman. Mungkin jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, mulai dari teman masa kecil hingga teman SMA. Bukannya saya tak ramah pada spesies manusia lainnya, saya sedikit terkesan dingin dan judes ketika pertama kali bertemu dengan mereka. Jadi nggak heran kalau cuma sedikit orang yang berani mendekati ‘preman’ seperti saya. Kebanyakan dari teman saya berjenis kelamin perempuan meski nggak sedikit juga yang laki-laki, tetapi para teman lelaki itu sebagian besar selalu berakhir jatuh hati pada saya (bukan bermaksud sombong, hanya sedikit mengumbar).

Teman masa kecil saya berkutat pada nama-nama anak para tetangga yang sebaya dengan saya. Namanya Deta, Farah dan Niken. Niken masih terhitung saudara yang juga seumuran dengan saya dan kalau dilihat dari silsilah keluarga merupakan keponakan saya (bisa dibilang saya adalah tantenya). Farah adalah anak tetangga saya yang satu tahun lebih muda dari saya, si anak penakut yang sangat baik hati. Kalau si Deta adalah anak teman ayah sekaligus tetangga saya yang seumuran dengan Farah, dia adalah anak yang kuat namun sedikit manja. Mereka bertiga memberikan saya memori masa kecil yang cukup indah. Kehidupan awal saya di bumi berputar bersama ketiga orang ini, dan bersama mereka pula saya tumbuh hingga saya mulai menempuh bangku SD dan mengerti arti dari pertemanan atau persahabatan tersebut.

Sekolah Dasar merupakan masa kanak-kanak yang panjang, tetapi hanya segelintir orang yang menikmatinya bersama saya. Niken masih menjadi teman setia masa SD saya, karena dia adalah teman satu sekolah sekaligus tetangga samping rumah yang hanya perlu satu langkah untuk dicapai. Selain itu ada nama-nama seperti Dini, Lely, Inggar, Septin, Andra dan Anis yang juga ikut menghiasi memori saya. Dini dan Lely merupakan teman saya menuntut ilmu dan mereka pula yang mengajarkan saya untuk sedikit menjadi ‘perempuan’. Selain itu saya memiliki teman spesial bernama Inggar, dia telah mengajarkan saya menjadi seorang petualang hingga akhirnya dia harus pindah meninggalkan saya. Kalau ketiga orang bernama Andra, Septin dan Anis ini adalah teman kursus saya dan bersama mereka saya mengerti arti sebuah kesenangan serta tawa bahagia.

Selanjutnya adalah masa SMP milik saya. Pada masa ini bisa dibilang saya adalah introvert kelas kakap, hingga tak banyak orang yang tahu nama saya. Teman baik saya hanya ada dua orang, Kresy dan Eka. Kresy, si kribo kecil yang ternyata bisa bersikap lebih dewasa dari saya merupakan teman sekelas saya selama tiga tahun dan bersama dia saya mengerti arti kedewasaan. Teman saya yang satunya ini lebih mengajarkan saya banyak hal terutama kesabaran dan kebaikan, namanya Eka. Ia tinggal tak jauh dari rumah saya, bersama dengannya saya berangkat tiap pagi untuk menimba ilmu bersama. Kalau bersama Kresy saya berperan sebagai seorang ‘kakak’, dengan Eka saya berperan sebagai seseorang yang jauh lebih muda darinya. Bagi saya sudah cukup untuk dikenal dan mengenal kedua orang tersebut, sehingga tak perlu seisi sekolah tahu siapa saya.

Akhirnya, sampailah pada masa paling bergejolak dalam hidup saya yaitu masa SMA. Mungkin memang benar jika masa SMA adalah masa yang paling berapi-api dalam setiap masa kehidupan manusia, tetapi bukan untuk saya. Masih dengan facade yang sama yaitu raut wajah dingin, saya memasuki masa SMA yang cukup berbeda dengan masa SMA gadis lainnya. Asrama telah mengubah perspektif saya mengenai persahabatan atau pertemanan ini. Pertemanan tidak membutuhkan kata, kita hanya perlu diam berada di samping mereka. Tiga tahun saya hidup bersama mereka, dan saya mulai mengerti arti kehidupan dengan bumbu persahabatan di dalamnya persis seperti kata orang kebanyakan. Ada sebuah keindahan di dalamnya, namun kita juga tak bisa menghindari kesedihan yang terukir di dalamnya.

Tika, mungkin bisa dibilang ia bukan seorang teman tetapi saudara tanpa ikatan darah. Ia lebih seperti seorang kakak yang mampu menjaga tingkah laku saya yang sedikit melenceng. Kami tak butuh kata-kata untuk mengekspresikan betapa kami peduli akan satu sama lain, kami hanya perlu melihat dan mengamati hal tersebut. Bukan sebuah telepati, mungkin hanya radar yang kuat (jadi inget agen neptunus). Meski saya tak pernah berkata bahwa saya berterimakasih akan kehadirannya pada hidup saya yang berantakan, tetapi saya tahu ia mengerti itu.

Dewi, Upi, Inayah dan Au mereka adalah para teman pembawa kebahagiaan. Mereka membuat saya bahagia dan pada saat yang sama mengajarkan saya hal yang tak pernah saya ketahui. Dengan berbagai karakter pada diri mereka, saya mulai mengerti perbedaan. Kami bermain dengan sinisme dan kata-kata kasar untuk mengungkapkan kepedulian kami, namun terkadang itu jauh lebih baik daripada kata-kata indah yang tak memiliki arti. Saya menghargai mereka dan masih berusaha untuk mengerti mereka dengan menerima kelebihan dan kekurangan mereka. begitu juga sebaliknya.

Wili dan Yusa adalah teman saya menghadapi kepahitan hidup. Mereka merupakan teman seperjuangan saya menghadapi cobaan hidup yang tak ada habis-habisnya di sebuah kelas neraka. Mereka juga teman satu kelas saya diantara para Einstein-einstein berotak encer yang tak dapat kami kejar kepintaran-nya. Kami pasrah bersama dan kami juga berjuang bersama. Kami sama, karena kami berjuang di jalan yang sama. Mungkin baru beberapa bulan saya mengenal mereka, namun saya berharap dapat menghargai mereka seperti yang lainnya dan juga sebaliknya.

Terima kasih untuk para kawan, teman, sahabat atau apa pun juga mereka menyebutnya. Tujuh belas tahun hidup saya jauh lebih bermakna, karena kalian telah mewarnai hidup saya yang berawal dari sebuah kertas putih tanpa warna. Karena kalian, kehidupan yang sulit ini terasa lebih mudah meski hanya untuk beberapa waktu. Saya bukanlah teman terbaik yang pernah kalian miliki, tetapi dari hati saya ter-dalam saya sungguh menghargai kalian semua

Iklan

5 thoughts on “Colour of Friendship

  1. Everyone who knew you must be thankful to have you in their life. Being introvert in the childhood time is not bad, social life is not only being around with your friends, but how you valued them and thank them enough with all they’ve done to you.

    Keep spirit, Big Dreamer!!!! :)))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s