Potret Guru Indonesia

    “Ing ngarsa sun tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani.”

–Ki Hajar Dewantara-

Cuplikan kalimat tersebut merupakan slogan Kementrian Pendidikan Indonesia yang dikutip dari Ki Hajar Dewantara selaku pelopor pendidikan di Indonesia. Secara garis besar arti semboyan tersebut adalah di depan seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara murid-muridnya guru harus mampu menciptakan prakarsa dan ide, sedangkan dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan atau motivasi. Slogan tersebut seakan mengingatkan peran signifikan guru dalam pendidikan di berbagai jenjang di Indonesia, menjadi ujung tombak pendidikan. Ketika ujung tombak itu tak tajam lagi, maka tombak tersebut tak akan menancap sempurna pada sasaran yang dituju.

Kemerdekaan, keadilan dan kemandirian merupakan tiga hal yang wajib dijunjung tinggi oleh seorang pendidik dalam membimbing siswa-siswinya untuk membangun sebuah kepribadian pendidikan yang lembut dan tangguh. Kemerdekaan, memperkenankan setiap siswa untuk berkembang menuju jati diri mereka sendiri. Seseorang pernah berkata, “sekolah itu seperti sebuah kotak kecil yang membuat kita tak bisa bernapas dan bergerak ketika berada di dalamnya”. Kotak tersebut dapat diartikan sebagai peraturan yang dibuat oleh guru dan seseorang yang berada di dalam kotak merupakan murid yang harus menuruti peraturan. Ketika guru berada di dalam kelas, murid akan diam seribu bahasa meski guru tak mengeluarkan sepatah kata. Diam merupakan sebuah peraturan yang guru terapkan agar suasana belajar-mengajar dapat berjalan lebih kondusif dan murid harus mematuhinya. Padahal semakin diam seorang murid, maka semakin besar kecenderungannya untuk bosan. Untuk mengusir rasa bosan itu, murid akan sibuk dengan dirinya sendiri dengan melakukan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengam pembelajaran. Sehingga, pembelajaran  bukannya berjalan kondusif, namun akan semakin tidak efektif. Bagaimanapun juga suka atau tidak atas peraturan tersebut, murid harus tetap mematuhinya. Murid tidak diberikan kemerdekaan untuk mengembangkan dirinya, mereka hanya diajarkan cara untuk mematuhi peraturan yang ada dan telah didesain untuk mereka.

Perlakuan yang sama kepada siswa tanpa kecenderungan untuk memihak suatu sisi, itulah yang disebut keadilan dalam pendidikan. Setiap pendidik wajib untuk menuntun siswa tanpa terkecuali dengan kadar yang sama. Namun pada kenyataannya, sebagian besar guru memiliki kecenderungan kepada sebuah kelompok atau perseorangan siswa. Sebagian besar guru lebih banyak memberikan perhatian kepada anak-anak yang cerdas dan pintar. Guru memiliki pemikiran konvensional bahwa si cerdas akan dapat membantu teman-temannya yang kesulitan dalam pembelajaran. Pada kenyataannya siswa lain yang tak memiliki kemampuan merasa terabaikan. Hal tersebut merupakan sebuah pengkotakan siswa, klasifikasi untuk menentukan kasta. Padahal apa yang seharusnya terjadi adalah sebaliknya, siswa yang kurang pintar harus lebih banyak dibimbing agar setara dengan yang lain. Jika hal tersebut semakin kentara apalagi dalam dunia pendidikan, maka slogan “yang pintar akan semakin pintar dan yang bodoh akan semakin bodoh” tak dapat terhindarkan. Sehingga, ‘jurang’  yang terbentuk di antara keduanya akan semakin sulit untuk didaki.

Kemandirian, poin terakhir yang wajib dijunjung tinggi oleh seorang guru, menuntun siswa bertindak kreatif dengan kemampuannya sendiri. Pendidik bertindak sebagai pembimbing menuju kemandirian dalam pembelajaran yang dilakukan, bukan hanya sebagai  pengajar demi memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Pengajaran guru yang dilakukan saat ini hanya merujuk pada nilai dan Ujian Akhir Nasional (UAN), siswa harus mencapai nilai maksimal dan mendapatkan Nilai Ujian Nasional (NUN) yang tinggi. Ketika dua faktor tersebut telah tercapai, maka tugas guru dirasa telah usai. Tetapi, para guru sering melupakan satu titik penting dalam pembelajaran yaitu sifat mandiri yang harus ditanamkan pada setiap siswa. Kemandirian tersebut akan mengantarkan siswa kepada kesadaran untuk belajar dan berkembang. Tanpa kemandirian, siswa akan mendapatkan kevakuman pembelajaran bukannya kontinuitas pendidikan seperti yang seharusnya. Siswa hanya akan menjadi “masakan setengah matang” yang belum siap disantap oleh masyarakat.

Bagaimana cara menumbuhkan 3K?                               

Akar dari kemerdekaan, keadilan dan kemandirian (3K) pendidikan adalah kepercayaan guru terhadap siswa. Berdasarkan fakta yang terjadi, siswa telah mempercayai guru sepenuhnya dengan mematuhi segala peraturan yang digelonggongkan pada mereka. Meskipun seringkali mereka tak mengerti alasan dibalik peraturan yang harus mereka patuhi, meski peraturan tersebut terasa aneh bagi mereka sendiri. Supaya kelanjutan siklus kepercayaan tersebut akan menumbuhkan timbal balik yang baik antara guru dan murid, maka guru juga harus mampu untuk memberikan kepercayaan kepada murid-muridnya. Guru harus percaya bahwa murid akan menjadi sukses, bahwa murid dapat melaksanakan suatu tugas dengan baik apabila diberi kematangan ilmu dan petunjuk. Ketika guru telah memberikan kepercayaan kepada siswanya, di saat yang sama guru telah menyerahkan bendera kemerdekaan bagi muridnya. Kemerdekaan itulah yang akan menumbuhkan benih-benih kemandirian pada jiwa mereka.

Selain itu, perbaikan kualitas guru juga membawa dampak penting dalam pengembangan 3K. Kualitas guru sekarang dikategorikan sebagai sebuah kebobrokan. Hal yang membuat rusaknya kualitas guru adalah rendahnya kualitas input guru. Hal tersebut dikarenakan jurusan pendidikan guru memiliki peminat yang sedikit, sebagian besar pemuda Indonesia tidak ingin menjadi guru dengan alasan masa depan guru yang kurang menjanjikan. Sehingga calon guru dianggap sebagai para ‘buangan’ dengan memilih fakultasnya tanpa sadar, sedangkan yang dibutuhkan oleh pendidikan di Indonesia adalah lulusan terbaik untuk menjadi pendidik calon pilar-pilar bangsa. Seperti yang dilaksanakan oleh negara Finlandia, negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Finlandia memilih calon guru dari lulusan-lulusan terbaik universitas dan hanya sebagian yang dapat melanjutkan pendidikan sebagai calon guru sesuai dengan syarat dan ketentuan yang diberlakukan.

Kesimpulannya, seorang guru yang baik adalah guru yang mampu menyuguhkan kemerdekaan, keadilan dan kemandirian dalam pembelajaran kepada siswa-siswinya. 3K tersebut dapat ditumbuhkan dengan kepercayaan antara guru dan murid, murid telah percaya kepada guru dan guru juga harus melakukan hal yang sama. Di lain sisi, 3K juga dapat dikembangkan melalui kualitas guru. Kualitas guru yang tinggi dicapai dengan input guru yang baik, lulusan terbaik dari universitas yang memiliki panggilan jiwa untuk mendidik.

GIB

Invisible Girl

Kali ini saya akan sedikit membanting setir kembali kepada masalah keluarga, yaitu keluarga besar saya baik dari sisi ayah maupun ibu. Mungkin banyak yang akan bertanya kenapa judul-nya invisible girl, padahal yang akan saya bahas adalah persoalan keluarga. Namun, kenyataannya memang begitulah saya diantara kumpulan manusia yang memiliki hubungan darah dengan saya atau yang biasa kita sebut sebagai keluarga. Bagi sebagian orang yang pendiam apalagi kepada para strangers, menjadi gadis yang tak terlihat di keluarga sendiri merupakan hal yang sangat biasa. Dan saya sangat yakin saya berada di kumpulan orang tersebut.

Saya mulai berpikir mengenai permasalahan keluarga ini sejak teman saya memberikan petuah kepada saya betapa pentingnya sebuah keluarga besar untuk setiap manusia. Kemudian, saya mulai berpikir bahwa saya sendiri tak begitu dekat dengan keluarga besar saya. Sedikit atau pun banyak saya mulai menyesali keadaan tersebut, karena apa yang diberitahukan oleh teman saya tersebut merupakan sesuatu hal yang sangat benar. Keluarga akan membawa dampak besar dalam kehidupan setiap manusia baik saat ini atau pun suatu saat nanti. Sehingga, saya mulai gencar melaksanakan misi yang saya sebut sebagai ‘add-families-through-FB’ sebagai proses untuk mendekatkan saya kembali pada jalan yang benar dalam keluarga saya tersebut.

Saya adalah anak rantau sejak SMA, saya sudah meninggalkan rumah untuk menimba ilmu sejak menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama saya. Sehingga ketika saya sudah dewasa dan menjadi seorang gadis perawan, tak banyak saudara yang tahu seperti apa rupa saya dan bagaimana keadaan saya. Apalagi dahulu ketika masih kecil, saya adalah anak yang anti-sosial bahkan diantara para saudara saya sendiri. Ketika semua keluarga berkumpul yang saya lakukan adalah menempel seperti perangko pada sang mami dan tak ingin bermain dengan saudara yang seumuran dengan saya. Bahkan, ayah-ibu saya pernah memaksa saya untuk bermain dengan mereka karena takut saya tak akan mengenal mereka sebagai saudara saya sendiri. Pada akhirnya itulah yang terjadi, saya tak mengenal mereka sebagai keluarga dan mereka tak pernah tahu siapa saya.

Namun, ke-invisible-an saya ini hanya terjadi pada keluarga pada sisi ibu saya sedangkan pada keluarga sisi ayah itu tak terjadi. Saya lebih dekat dan lebih suka berada diantara keluarga ayah saya, dan merasa tak nyaman ketika bersama keluarga ibu saya. Saya tak tahu apa alasan yang pasti, namun saya meyakini mungkin ini dikarenakan saya lebih banyak dibesarkan bersama dengan keluarga ayah apalagi saya sendiri merupakan seorang daddy’s girl. Ketika saya diajak oleh orang tua untuk menghadiri kumpul keluarga besar ibu setiap satu bulan sekali, saya lebih banyak menolak. Terkadang saya merasa tak adil pada mami, tetapi hati saya tak pernah bisa dibohongi untuk melakukan apa yang tidak saya sukai.

Pada sisi ayah, keluarga saya adalah keluarga besar yang tinggal di desa yang damai dan sejuk. Ayah saya masih memiliki seorang ibu yang tinggal di rumah yang biasa kami gunakan untuk berkumpul bersama, beliau adalah seorang nenek yang sangat baik pada cucu-cucunya. Saya bahagia ketika keluarga besar tersebut berkumpul pada akhir pekan atau ketika ada acara yang besar dan patut diperingati. Mereka adalah orang-orang yang ramah dan bersama mereka saya tak perlu berpikir panjang untuk ikut ‘nimbrung’ dalam obrolan kecil mereka. Ketika saya diam, mereka akan membuat saya berbicara dengan nyaman. Bukan masalah besar untuk beradaptasi dalam keluarga ini, karena rasa kekeluargaan tersebut mengalun tenang diantara kami. Tidak ada perbedaan yang membuat kami tidak nyaman dengan satu sama lain karena kami adalah satu keluarga.

Keluarga sisi ibu saya merupakan keluarga yang lebih besar apabila dibandingkan dengan keluarga ayah, karena almarhum kakek saya memiliki dua istri. Namun karena memiliki dua nenek itulah perbedaan itu sangat terasa, itu merupakan hal yang tak dapat dipungkiri oleh siapa pun juga. ‘Bulik-budhe’ serta ‘pakde-pakpuh’ adalah panggilan untuk saudara ibu dari almarhumah nenek pertama yang merupakan ibu dari mami saya, dan ‘tante’ serta ‘om’ untuk saudara ibu dari almarhumah nenek kedua. Ada banyak perbedaan diantara kedua pihak tersebut, dan hal tersebut yang terkadang membuat saya tidak nyaman.

Pada saat ‘arisan keluarga’ setiap satu bulan sekali, saya merasa inferior diantara kumpulan saudara yang bahkan terkadang saya tak tahu namanya. Banyak dari mereka yang tak peduli apabila saya ada atau tidak dalam acara tersebut, dan itu pula yang membuat saya tak ingin peduli terhadap nama mereka. Menjadi anak terakhir (secara teknis) diantara dua saudara yang hebat bukanlah hal yang mudah. Kakak pertama saya merupakan anak yang paling terkenal diantara keluarga akibat kepintaran dan prestasinya, menjadi anak pertama kebanggaan ibu merupakan nilai plus untuknya. Kakak kedua merupakan anak yang sociable sehingga banyak saudara yang mengenalnya, ia mampu bergaul dan dianggap sebagai gadis yang sangat sopan dan lucu di saat yang bersamaan. Sedangkan, saya hanya dianggap sebagai gadis yang memiliki wajah yang mirip dengan kakak kedua dan mungkin memiliki otak yang cukup pintar untuk menyaingi kakak pertama. Saya hanya dikenal sebagai anak terakhir dari orang tua saya yang tak pernah berada di rumah karena mendapat beasiswa keluar kota.

Saya tak tahu patut menyalahkan siapa atas keadaan ini, atau sebenarnya memang tidak ada orang yang patut dipersalahkan atas ini semua. Mungkin hal ini memang salah saya sendiri karena terlalu malas untuk ber-sosialisasi dengan mereka, atau salah kedua kakak saya yang terkadang membuat saya merasa kecil di hadapan para saudara, atau salah orang tua saya yang tak memaksa saya untuk mengenal mereka lebih jauh. Namun, saya lebih yakin bahwa keadaan ini merupakan sepenuhnya salah saya sendiri. Saya hanya takut mengambil risiko untuk menyeberang batas yang kentara diantara kedua belah pihak, saya hanya mencari aman kala itu. Saya yang tak mau mengenal mereka lebih jauh karena merasa takut untuk diacuhkan oleh mereka yang saya rasa lebih memiliki segalanya dibanding saya. Seharusnya, sejak dahulu saya bisa berpikir sebaliknya. Tetapi, saya baru menyadari ketika saya sudah mulai dewasa dan sekarang terasa terlambat untuk memulai hal tersebut.

Sungguh, sebenarnya saya ingin dikenal juga oleh keluarga saya sendiri. Saya ingin mereka tahu siapa saya dan menerima saya sebagai seorang saudara. Saya ingin bisa berbicara dengan ramah bersama mereka seperti yang kakak kedua biasa lakukan. Saya ingin membanggakan mereka seperti yang kakak pertama selalu laksanakan. Saya hanya ingin mereka menyebut nama saya ketika saya bersalaman dengan mereka dan bukan nama kedua kakak saya yang biasanya selalu mereka ucapkan. Saya ingin dengan mudahnya menyapa mereka ketika bertemu atau bahkan hanya lewat jejaring sosial. Saya ingin bisa meng-unggah foto kebersamaan kami sebagai sebuah keluarga. Saya ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka adalah keluarga saya dan bukannya hanya sekumpulan orang yang pernah saya kenal. Saya sungguh ingin mereka menyayangi saya seperti saya menyayangi mereka.

Sebenarnya ketakutan terbesar saya bukan tentang terlihat tidaknya saya di hadapan mereka, bukan mengenai kasih sayang diantara kami, bukan pula mengenai perbedaan diantara kedua kubu. Namun yang paling saya takuti adalah ketika saya telah dewasa dan berkeluarga nantinya saya tidak bisa berkumpul bersama mereka apalagi ketika hari raya tiba. Saya tak ingin benang persaudaraan yang telah dibangun oleh keluarga terdahulu sebelum generasi saya hancur hanya karena ketidaksiapan saya untuk mendekati mereka. Saya juga tak ingin anak-anak kami nantinya tak mengetahui betapa hebatnya keluarga kami seperti yang saya lihat sekarang. Sehingga, saya hanya dapat berharap semoga ada sebuah keajaiban yang mampu membuat saya dekat dengan mereka dengan begitu persaudaraan kami tetap terjaga.

Fam

FAMILY

Mom’s Favourite Story

FK

Jas Putih

Ibu saya suka sekali ‘ngrempong’ alias bercerita mengenai banyak hal terutama kepada keluarga besar kami. Namun untuk kali ini saya bukan akan membahas mengenai ibu saya tercinta, tetapi membahas mengenai topik ‘rempong’ ala sang mami. Selama Hari Raya tahun ini, mami sibuk sekali bercerita mengenai berbagai topik yang bersangkutan dengan empat putri kesayangannya. Salah satu topik mengenai diri saya dan masih menjadi berita hangat di antara para keluarga adalah medical education atau sekolah kesehatan. Topik yang sangat terkenal dan sudah mampu saya hafal di luar kepala.

Kedua orang tua saya baik sang papi atau pun mami berharap saya menjadi seorang dokter. Bukan dokter cinta, tetapi benar-benar dokter dalam arti yang sebenarnya. Lucu rasanya melihat beliau berdua begitu bersemangat menceritakan rencana masa depan mereka untuk saya bersama dengan keluarga besar kami, sedangkan saya sendiri hanya diam tersipu malu. Akibat keahlian iklan oleh mami-papi, para tante saya ikut terbujuk rayu untuk menyokong rencana tersebut. Alhasil, hidup saya semakin dipenuhi oleh jas putih dan  jarum suntik yang bahkan tak pernah ter-pikirkan oleh saya sendiri.

Sebenarnya semua hal tersebut bersumber pada seorang ‘budhe’ yang notabene merupakan kakak dari ibu saya, beliau adalah orang pertama yang mencetuskan ide brilian masa depan saya. Beliau juga yang telah menyanggupi untuk membantu saya meraih cita-cita ‘saya’. Bukannya saya tak senang dengan berbagai rencana yang telah dipersiapkan hanya untuk saya seorang, tetapi pada saat itu saya tak mengerti apa enaknya menjadi dokter. Saya orang yang bebas, saya lebih suka menjadi seorang penulis yang bisa bebas berkarya dan berkeliling dunia dan bukan seorang dokter yang giat belajar dan ulet untuk menatap masa depan.

Tetapi, tanpa saya sadari sebenarnya itulah cita-cita saya sedari dulu. Ketika masih TK, guru saya selalu bertanya ingin jadi apa saya nantinya dan saya akan dengan lantangnya menjawab dokter. Ketika masa SD hampir seluruh umat manusia akan berganti beragam cita-cita dari mulai polisi sampai presiden, tetapi setiap ada orang bertanya hal yang sama kepada saya jawaban saya juga tetap sama. Baru ketika masa SMP, hal tersebut sedikit punah karena kemauan dan passion saya terhadap hal yang lainnya mulai bermunculan. Tetapi, saya sendiri tidak tahu mengapa ketika mengisi aplikasi untuk mendaftar SMA saya tetap menuliskan dokter pada kolom cita-cita.

Rencana ini memang bukan salah orang tua saya, mungkin memang sebenarnya saya sendiri yang telah mendeklarasikan diri saya sebagai dokter sejak dulu. Karena kenyataannya adalah saya suka menjadi dokter dengan atau tanpa kesadaran saya. Saya percaya jika memang Allah SWT mengizinkan semua hal tersebut dapat terjadi. Jalan dan proses yang akan saya tempuh memang tak akan mudah, tetapi saya juga sudah tahu bahwa hidup memang tak pernah mudah. Meski tak pernah membayangkan diri saya memakai jas putih dan berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, namun akan selalu ada saatnya untuk memulai membayangkannya.

Sebenarnya semua sudah ada dalam satu paket ketika saya menjadi dokter nantinya. Saya tak perlu berhubungan lagi dengan Fisika, saya bisa memperbaiki hubungan baik dengan Biologi, orang tua saya bangga kepada saya, keluarga besar saya dapat merasa lega, teman-teman saya ikut bersyukur bersama saya, dan yang terpenting saya dapat memenuhi mimpi masa kecil saya. Cita-cita yang saya miliki untuk menjadi dokter memang sedikit klise, setiap anak pasti pernah bermimpi menjadi seorang dokter. Tapi, saya tahu ke-klise-an saya ini sedikit berbeda dengan orang kebanyakan.

Saya selalu berharap menjadi manusia yang berbeda dengan orang lain dalam berbagai hal. Saya selalu mencari cara untuk menemukan jati diri yang tak ditemukan oleh orang lain. Dengan ke-berbedaan ini saya berharap bisa menjadi dokter yang berbeda dengan dokter yang lainnya dalam proses yang lebih baik. Dokter bukan lagi sebuah mimpi, hal tersebut sudah menjadi sebuah harapan karena saya telah mengambil langkah untuk mewujudkannya. Dr. Alvin Faizah adalah nama yang sekarang terdengar tak asing lagi di telinga saya dan semoga seterusnya akan seperti itu.

Colour of Friendship

FS

Friendship

Teman atau sahabat? Saya nggak tau apa beda dari kedua hal itu, tetapi bagi sebagian orang kedua hal tersebut sangat berbeda. Bagi mereka, sahabat adalah seseorang yang lebih dari seorang teman. Sahabat bisa mengerti mereka lebih dari seorang teman lakukan. Tetapi bagi orang awam seperti saya yang bisa dibilang “kagok” dengan hal seperti ini, teman dan sahabat itu sama saja. Bagi saya, seorang sahabat pasti adalah seorang teman dan seorang teman mungkin bisa menjadi sahabat. Lalu apa bedanya? Yang terpenting, mereka merupakan orang yang sangat saya kenal dan bisa menghargai saya seperti ini adanya.

Sebagai seseorang yang bisa dibilang less sociable, saya nggak punya banyak teman. Mungkin jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, mulai dari teman masa kecil hingga teman SMA. Bukannya saya tak ramah pada spesies manusia lainnya, saya sedikit terkesan dingin dan judes ketika pertama kali bertemu dengan mereka. Jadi nggak heran kalau cuma sedikit orang yang berani mendekati ‘preman’ seperti saya. Kebanyakan dari teman saya berjenis kelamin perempuan meski nggak sedikit juga yang laki-laki, tetapi para teman lelaki itu sebagian besar selalu berakhir jatuh hati pada saya (bukan bermaksud sombong, hanya sedikit mengumbar).

Teman masa kecil saya berkutat pada nama-nama anak para tetangga yang sebaya dengan saya. Namanya Deta, Farah dan Niken. Niken masih terhitung saudara yang juga seumuran dengan saya dan kalau dilihat dari silsilah keluarga merupakan keponakan saya (bisa dibilang saya adalah tantenya). Farah adalah anak tetangga saya yang satu tahun lebih muda dari saya, si anak penakut yang sangat baik hati. Kalau si Deta adalah anak teman ayah sekaligus tetangga saya yang seumuran dengan Farah, dia adalah anak yang kuat namun sedikit manja. Mereka bertiga memberikan saya memori masa kecil yang cukup indah. Kehidupan awal saya di bumi berputar bersama ketiga orang ini, dan bersama mereka pula saya tumbuh hingga saya mulai menempuh bangku SD dan mengerti arti dari pertemanan atau persahabatan tersebut.

Sekolah Dasar merupakan masa kanak-kanak yang panjang, tetapi hanya segelintir orang yang menikmatinya bersama saya. Niken masih menjadi teman setia masa SD saya, karena dia adalah teman satu sekolah sekaligus tetangga samping rumah yang hanya perlu satu langkah untuk dicapai. Selain itu ada nama-nama seperti Dini, Lely, Inggar, Septin, Andra dan Anis yang juga ikut menghiasi memori saya. Dini dan Lely merupakan teman saya menuntut ilmu dan mereka pula yang mengajarkan saya untuk sedikit menjadi ‘perempuan’. Selain itu saya memiliki teman spesial bernama Inggar, dia telah mengajarkan saya menjadi seorang petualang hingga akhirnya dia harus pindah meninggalkan saya. Kalau ketiga orang bernama Andra, Septin dan Anis ini adalah teman kursus saya dan bersama mereka saya mengerti arti sebuah kesenangan serta tawa bahagia.

Selanjutnya adalah masa SMP milik saya. Pada masa ini bisa dibilang saya adalah introvert kelas kakap, hingga tak banyak orang yang tahu nama saya. Teman baik saya hanya ada dua orang, Kresy dan Eka. Kresy, si kribo kecil yang ternyata bisa bersikap lebih dewasa dari saya merupakan teman sekelas saya selama tiga tahun dan bersama dia saya mengerti arti kedewasaan. Teman saya yang satunya ini lebih mengajarkan saya banyak hal terutama kesabaran dan kebaikan, namanya Eka. Ia tinggal tak jauh dari rumah saya, bersama dengannya saya berangkat tiap pagi untuk menimba ilmu bersama. Kalau bersama Kresy saya berperan sebagai seorang ‘kakak’, dengan Eka saya berperan sebagai seseorang yang jauh lebih muda darinya. Bagi saya sudah cukup untuk dikenal dan mengenal kedua orang tersebut, sehingga tak perlu seisi sekolah tahu siapa saya.

Akhirnya, sampailah pada masa paling bergejolak dalam hidup saya yaitu masa SMA. Mungkin memang benar jika masa SMA adalah masa yang paling berapi-api dalam setiap masa kehidupan manusia, tetapi bukan untuk saya. Masih dengan facade yang sama yaitu raut wajah dingin, saya memasuki masa SMA yang cukup berbeda dengan masa SMA gadis lainnya. Asrama telah mengubah perspektif saya mengenai persahabatan atau pertemanan ini. Pertemanan tidak membutuhkan kata, kita hanya perlu diam berada di samping mereka. Tiga tahun saya hidup bersama mereka, dan saya mulai mengerti arti kehidupan dengan bumbu persahabatan di dalamnya persis seperti kata orang kebanyakan. Ada sebuah keindahan di dalamnya, namun kita juga tak bisa menghindari kesedihan yang terukir di dalamnya.

Tika, mungkin bisa dibilang ia bukan seorang teman tetapi saudara tanpa ikatan darah. Ia lebih seperti seorang kakak yang mampu menjaga tingkah laku saya yang sedikit melenceng. Kami tak butuh kata-kata untuk mengekspresikan betapa kami peduli akan satu sama lain, kami hanya perlu melihat dan mengamati hal tersebut. Bukan sebuah telepati, mungkin hanya radar yang kuat (jadi inget agen neptunus). Meski saya tak pernah berkata bahwa saya berterimakasih akan kehadirannya pada hidup saya yang berantakan, tetapi saya tahu ia mengerti itu.

Dewi, Upi, Inayah dan Au mereka adalah para teman pembawa kebahagiaan. Mereka membuat saya bahagia dan pada saat yang sama mengajarkan saya hal yang tak pernah saya ketahui. Dengan berbagai karakter pada diri mereka, saya mulai mengerti perbedaan. Kami bermain dengan sinisme dan kata-kata kasar untuk mengungkapkan kepedulian kami, namun terkadang itu jauh lebih baik daripada kata-kata indah yang tak memiliki arti. Saya menghargai mereka dan masih berusaha untuk mengerti mereka dengan menerima kelebihan dan kekurangan mereka. begitu juga sebaliknya.

Wili dan Yusa adalah teman saya menghadapi kepahitan hidup. Mereka merupakan teman seperjuangan saya menghadapi cobaan hidup yang tak ada habis-habisnya di sebuah kelas neraka. Mereka juga teman satu kelas saya diantara para Einstein-einstein berotak encer yang tak dapat kami kejar kepintaran-nya. Kami pasrah bersama dan kami juga berjuang bersama. Kami sama, karena kami berjuang di jalan yang sama. Mungkin baru beberapa bulan saya mengenal mereka, namun saya berharap dapat menghargai mereka seperti yang lainnya dan juga sebaliknya.

Terima kasih untuk para kawan, teman, sahabat atau apa pun juga mereka menyebutnya. Tujuh belas tahun hidup saya jauh lebih bermakna, karena kalian telah mewarnai hidup saya yang berawal dari sebuah kertas putih tanpa warna. Karena kalian, kehidupan yang sulit ini terasa lebih mudah meski hanya untuk beberapa waktu. Saya bukanlah teman terbaik yang pernah kalian miliki, tetapi dari hati saya ter-dalam saya sungguh menghargai kalian semua