4 Gadis dan Sebuah Konser

Korean Wave sudah merajalela sejak tahun 2009, yaitu tiga tahun yang lalu. Dimulai dengan dramanya (sejenis sinetron versi lebih apik) yang digandrungi anak-anak muda di seluruh Asia (mungkin juga dunia), sampai musiknya yang merebak ke pasaran Internasional. Bisa dibilang saya adalah salah satu dari jutaan anak muda tersebut. Saya suka dramanya, tetapi saya lebih suka musiknya. Para artis Korea terkenal dengan kerupawanan wajahnya dan juga musiknya yang easy-listening.

Sebagai empat bersaudara yang semuanya perempuan, kesukaan pada musik atau drama bisa berpengaruh terhadap satu sama lain. Alhasil, ketiga saudara saya memiliki muara yang sama. Si kakak tertua yang sudah menikah dan beranak satu yang masih imut-imut menyukai drama Korea daripada musiknya. Dia lebih suka nonton drama yang memiliki 16-24 episode daripada melihat 3-4 menit music video (MV) dari para boy band dan girl band Korea. Bukan anti pada musik Korea, hanya terkadang katanya musik Korea sedikit alay.

Beda lagi dengan kakak kedua yang sekarang sedang pusing-pusingnya menghadapi skripsi perkuliahan-nya. Dia lebih menyukai musik Korea dari para boy band Korea, terutama SS501 (salah satu boy band yang sekarang lagi masa hiatus atau almost bubar) dan beberapa boy band beken lainnya. Menurut saya, kakak saya yang satu ini nggak terlalu hardcore soal ngefans masalah beginian. Dia hanya share kesukaannya ini dengan teman-teman dan komunitas tertentu.

Kalau adik saya yang baru saja masuk SMA ini sedikit hardcore, meskipun sekarang sudah agak mendingan dibanding masa SMP dulu. Bisa dibilang masa alay sudah dia lewati. Kesukaannya pada para boy band Korea (Super Junior terutama), dia ekspresikan lewat akun sosial (Facebook dan Twitter) 24 jam sehari. Dia juga rela menghabiskan uang untuk membeli barang-barang ala Korea, termasuk album dan baju-baju yang bertuliskan fandom-nya (sejenis komunitas fans).

Saya sendiri lebih menyukai girl band Korea dibanding boy band-nya, kedua kakak saya bilang kesukaan saya itu aneh. Biasanya untuk seorang gadis akan lebih menyukai cowok-cowok bertampang ganteng ala boy band Korea, tetapi saya sedikit berbeda ternyata. Bukannya saya tidak suka pada mereka, hanya girl band Korea terasa lebih menarik. Mereka lebih menantang untuk dipelajari.

SNSD (So Nyuh Si Dae) atau Girls’ Generation adalah favorit saya. Sembilan gadis dengan pesona-nya masing-masing. Sebagai seorang fan yang baik, saya melihat mereka berkembang sebagaimana saya bertumbuh. Mereka merupakan bagian kecil dari hidup saya untuk menuju fase kedewasaan. Mereka cantik dan menarik, meski banyak orang (anti-fans) yang menghujat mereka saya tidak peduli. Buktinya, sampai detik ini saya masih menjadi penggemar setia mereka.

Tetapi, kesukaan saya pada musik Korea akhir-akhir ini mulai surut. Saya tidak se-excited seperti biasanya. Mungkin ini yang disebut, saya sudah mulai dewasa. Mungkin kesukaan saya pada musik Korea merupakan masa alay saya, masa dimana saya menuju proses kedewasaan atau mungkin remaja sesungguhnya. Saya tidak akan meninggalkan bagian kecil dari hidup saya ini, saya hanya akan menjalaninya sesuai dengan jalan yang ada.

Dengan datangnya SNSD ke Indonesia kemarin (atau hari ini), saya tidak seheboh yang seharusnya. Saya senang, tetapi tidak ingin begitu saja melihat mereka dengan menghabiskan berjuta-juta rupiah untuk menonton konser mereka. Saya lebih bahagia karena saya masih waras untuk tak menghabiskan uang untuk foya-foya semata. Saya suka SNSD, tetapi saya lebih suka menyimpan uang untuk study saya yang sebentar lagi menuju kampus (road to mahasisiwi).

Jessica SNSD, Krystal f(x), Donghae Super Junior, Minho SHINee, Yunho DBSK, Kai EXO, sungguh sebenarnya saya ingin melihat kalian semua di sebuah panggung yang sangat dekat dengan saya. Saya ingin melihat ke-real-an kalian, seperti apa kalian jika terlihat dari dekat dan hanya berjarak beberapa meter dari tempat saya berpijak. Meski kedua kakak dan adik saya bilang bahwa mereka juga ingin menonton konser itu, tetapi apa daya kami kalau semua sudah menjadi seperti sekarang.

Selamat datang di Indonesia, SMTOWN. Welcome to Indonesia for SNSD, Super Junior, DBSK, SHINee, f(x) dan EXO. We hope you have a great time in Jakarta. We love you all. ­čÖé

JKT SM

SMTOWN Jakarta

Iklan

Mencintai Si 3B (Brain, Beauty, Behaviour)

Rasa cinta nggak harus ditunjukkin pada seorang cowok untuk seorang cewek atau seorang cewek pada case-nya buat seorang cowok (anggap aja nggak pernah ada kata selingkuh di muka bumi ini). Rasa cinta bisa muncul dari arah mana aja atau lebih tepatnya kepada siapa saja. Bahkan, seseorang bisa mencintai orang lain dalam sekejap mata (love at the first sight gitu lah).

Saya baru saja mendapatkan cinta saya satu minggu belakangan ini. Bukan seorang cowok (bukan berarti saya tidak normal) dan ketemu dengan dia aja nggak pernah satu kalipun. ‘Kenapa saya suka dia?’ adalah pertanyaan yang selalu tak bisa dijawab oleh si empu punya hati. Pokoknya dia itu membuat saya berpikir bahwa hidup itu nggak adil.

Dia cantik, pintar dan sukses atau dalam kata lain dia itu all in one. Saya jadi ngerasa  minder setiap ngelihat dia. Bukan berarti saya nggak cantik, saya cuma sedikit jelek. Bukan berarti saya nggak pintar, cuma baru nyadar kalau IQ saya lumayan jongkok juga. Kalau soal masalah sukses, dia seribu kali lebih sukses daripada saya. Singkatnya, saya kalah telak (KO ronde pertama).

MA

Maudy Ayunda

Namanya Ayunda Faza Maudia atau nama bekennya Maudy Ayunda. Dengan umur sekitar satu bulan lebih tua dari saya, ternyata dia punya nasib yang sangat berbeda dengan saya. Maudy adalah seorang pemain film sekaligus penyanyi. Karena film-nya juga saya jadi tahu dan akhirnya suka sama si doi. Lagunya juga sering saya putar dalam MP3 harga 30 ribuan saya dan tak ayal 12 lagu itu sudah masuk di my favourite playlist.

Pertama kali tahu tentang Mbak Maudy (maklum orang Jawa) dalam film ‘sang pemimpi’, kalau nggak salah (jadi bener) dia jadi pacarnya Arai (yang kalau gede diperanin Ariel). Setelah itu, saya hanya sekedar┬á tahu namanya dan nggak ada rasa pengen suka sama si artis. Saya juga sempet lihat dia nyanyi di Dahsyat dan itu sedikit berefek dengan munculnya rasa il-fell saya sama Maudy. Bagi saya kalau sudah jadi artis, ya nggak usah jadi penyanyi. Sampai suatu hari, saya menemukan artikelnya di Jawa Pos. Wala! Ternyata dia pinter abis dan penampilannya juga lumayan keren. Rasa il-fell saya jadi sedikit berkurang setelahnya.

Sekitar tiga tahun setelahnya, saya mengingatnya lagi pada film ‘Tendangan dari Langit’. Jujur, saya hanya tahu kalau dia terlibat dalam film itu, tetapi selalu gagal menontonnya. Baru saat film ‘Malaikat Tanpa Sayap’ rilis, saya bisa melihatnya beradu akting dengan si Adipati Dolken. Tetapi, saya mulai menyukainya sejak film ‘Perahu Kertas’ yang keluar tidak lama setelah film terakhirnya dengan Adipati.

Perahu Kertas adalah novel yang saya baca hasil minjem novel punya kakak tertua. Saat itu, saya benar-benar suka pada novel tersebut yang akhirnya berujung pada kesukaan saya pada Dee atau Dewi Lestari (penulis novelnya). Sejujurnya, saya jatuh cinta pada sosok Kugy. Saya suka bagaimana dia bermimpi dan gaya dia yang apa adanya. Kugy adalah role model saya ketika masa terakhir SMP itu, namun akhirnya saya sadar bahwa Kugy hanyalah tokoh fiksi karangan Dee.

Hari Sabtu lalu, akhirnya bisa nonton ‘Perahu Kertas’┬á juga sama kakak kedua dan gratis (alias dibayarin). Jalan ceritanya lumayan sama dengan novelnya, cuma beberapa part aja yang sedikit berbeda. Akting Maudy juga lumayan, hanya kurang greget sedikit. Paling nggak, kakak kedua nggak minta ganti rugi gara-gara filmnya kurang bagus. Sang kakak kedua ini sedikit anti dengan film Indonesia, karena katanya juga sebentar lagi ada di TV jadi nggak perlu bayar mahal-mahal buat ke bioskop. Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari cukup mampu membuat kolaborasi yang apik. Hanya saja, akting Adipati yang berperan sebagai Keenan kurang sedikit mengena. Sedangkan, akting Reza Rahardian dkk sudah lumayan untuk bisa menghidupkan suasana.

PK

Poster Perahu Kertas

Kembali kepada Maudy Ayunda! Sebagai penyanyi, dia telah mengeluarkan satu album dengan 10 lagunya berjudul ‘Panggil Aku..’. Dua lagu yang lain adalah lagunya sebagai OST Perahu Kertas. Lagu favorit saya adalah Ajari Aku Cinta, Perahu Kertas dan Tahu Diri. Pada ketiga lagu itu yang sedikit slow sangat tepat untuk suasana hati saya. Suara Maudy cukup bagus, dia juga bisa bermain gitar dan piano (setahu saya cuma itu). Secara keseluruhan, dia cukup layak mengeluarkan album. Maudy tidak hanya menumpang pamor lewat menyanyi, tetapi dia memang punya talenta dalam bermusik.

Saya hanya perlu menunggu film ‘Perahu Kertas 2’ sebagai sequel dari film yang pertama. Setelah itu, saya bisa melepas Maudy pergi untuk menimba ilmu di USA. Tahun 2013 nanti, Maudy akan berangkat ke Columbia University mengambil jurusan Economic and Politic. Hal tersebut membuktikan betapa encernya otak Maudy (sama encernya kali sama Cinta Laura). Mungkin disana, dia bisa ketemu sama Cinta Laura dan akhirnya berteman baik.

Good luck untuk cinta baruku! Maudy Ayunda…

“Hari ini aku bermimpi.
Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku.
Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini, aku merasa mimpiku semakin dekat.
Belum pernah sedekat ini.
Hari ini aku juga bermimpi.
Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng.
Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu.
Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi.
Bersama kamu, aku ingin memberi judul bagi buku ini.
Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar.
Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.
Selamat Ulang Tahun.”

-Surat Kugy untuk Keenan-